Sunday, July 17, 2005

Sepatu Seragam

Kemaren sore sepulang dari piknik dari Oregon Ridge Park yang diprakarsai oleh Tante Ambar dan David, saya mampir ke outlet sepatu DSW, dan membawa pulang 1 pasang sepatu merek Converse.
Sepatu ini mengingatkan saya pada masa lalu.
Ketika masih duduk di bangku SMP 5 di jalan Sumatera Bandung. Semua murid diwajibkan memakai sepatu seragam, bukan asal berwarna hitam seperti saat SD, tetapi sepatu dengan merek tertentu. Sepatu Warrior. Alasannya sederhana saja, supaya seragam dan tidak menonjolkan perbedaan antara si kaya dan si miskin. Ideal sekali.
Kalau dilihat secara sekilas, memang semua sepatu warrior serupa, tapi tidak sama. Ada warrior palsu, yang cepat rusak (kalau diteliti, bagian putih di ujung sepatu tidak lancip dan lebih membulat), ada warrior yang asli, tahan lama dan lebih mahal sedikit daripada warrior palsu. Ada juga warrior 'borju' -mungkin tahun 1989 istilah itu belum ada- bermerek Converse. Anak pejabat, anak orang kaya atau anak yang punya saudara di luar negeri sering didapati memakai merek ini. Jadi sepatu Converse is the It.
Saya bukan anak pejabat, bukan anak orang kaya atau punya saudara di luar negeri, sehingga kebagian memakai sepatu warrior yang asli, setelah 1x tertipu beli sepatu warrior palsu.
Saat SMA kelas 1, para senior dan beberapa guru yang aware, bisa tahu kalau anak ini berasal dari SMP 5 dari sepatunya. Saat upacara pagi penataran P4 'Akang dan Teteh' Paskibra menambahkan materi "mentang-mentang dari SMP 5" ke dalam gertakannya, cuman karena melihat saya membuat kesalahan baris-berbaris sekaligus memakai sepatu warrior.
Ada beberapa cara untuk membuat sepatu warrior menjadi berbeda yaitu melinting bagian atasnya keluar, mencuci dengan sodium hipoklorit sampai putih kemudian lingkaran karet dibagian mata kaki dikelupas, atau dengan memasang tali sepatu berwarna asturo. Yup, alternatif terakhir membuat saya dipanggil ke ruang guru bersama beberapa teman dari kelas yang lain. Dang, that was 17 years ago.
(Sampai sekarang saya masih belum mengerti mengapa Beno masuk Paskibra)

5 Comments:

Blogger yulian firdaus said...

hehe, sepatu ini diabadikan di film "I, Robot" :D

dulu, jaman Warrior asli atau palsu berkisar Rp6000-10.000 si Converse All Stars bisa Rp40.000 lebih

jangan lupa, warnu asturonya dua warna dengan tali yang lebar kayak pita, bahkan kiri kanan pake dua tali dianyam

2:31 PM  
Blogger dy said...

Rizki, mau bgt kalo punya jpgs fotonya Damian... thanks :) Nice post btw, bau2 nostalgia nih...?

1:38 PM  
Anonymous Anonymous said...

Wah merendah nih bukan anak orang kaya?

Jaman itu Warior harga Rp.11.000,-, Converse di Toko Surabaya, Jl Asia Afrika, Bandung harganya sekitar Rp.36.000,- saja made in USA aslih!. Saya beli bertahan 3 tahun, malah sampai rombeng di SMA masih saya pakai. Kayanya guru-guru SMP 5 ngajari pendek pikiran, mungkin lebih baik beli sepatu seharga Rp.11.000,- buatan Cina yang rapuh sebanyak 3 buah untuk tiap tahun daripada 1 buah seharga Rp.36.000,- untuk 6 tahun. (who wants to wear those damn idiot warrior in hischool anyway?).
Berapa US$ sekarang disana? masih 17an? Gua dulu dapet sale di MN cuma 12$, tapi udah design in USA, made in mexico atau puertorico kayanya.

9:13 AM  
Anonymous Anonymous said...

This comment has been removed by a blog administrator.

6:02 PM  
Blogger Budi said...

Oalah...gue malah gak kebagian pake Warrior or Converse. Sekolah Katolik sepatu seragamnya malah gak jelas gitu mereknya :)...pernah mbalelo kelas gue mau punya sepatu seragam sendiri, kita beli sepatu PDH ABRI yang ada disetrap :P....

9:41 AM  

Post a Comment

<< Home